
Universitas Muhammadiyah Maluku (UM Maluku) gelar Rapat Kerja Tahunan (RKT) Tahun Akademik 2026/2027 di Aula UM Maluku, Lantai 6, Kamis (3/9/2026). Rapat kerja ini menjadi momentum evaluasi sekaligus konsolidasi untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan mutu akademik, serta menyusun strategi pengembangan universitas ke depan.
RKT dihadiri Rektor UM Maluku Prof. Faris Al-Fadhat, Ph.D., Wakil Rektor I Dr. Andi Thamrin, SP., M.Si., Wakil Rektor II Dr. Imam Suprabowo, S.Sos.I., M.Pd.I., para dekan, ketua program studi, kepala lembaga, dosen, serta jajaran Badan Pembina Harian (BPH) UM Maluku. Turut hadir Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Maluku, Dr. H. M. Taib Hunsouw, M.Ag.

Dalam sambutan Ketua PWM Maluku, Dr. H. M. Taib Hunsouw menegaskan bahwa seluruh civitas academica memiliki tanggung jawab bersama terhadap kemajuan UM Maluku. Memasuki usia hampir enam tahun, menurutnya, UM Maluku telah menunjukkan perkembangan dan mulai diperhitungkan dalam peta perguruan tinggi di Maluku.
“Siapapun yang ada di sini bertanggung jawab terhadap kemajuan UM Maluku,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kaderisasi dan kemampuan seluruh civitas academica untuk membaca serta memanfaatkan momentum perkembangan universitas.
Taib mengingatkan agar perkembangan UM Maluku diikuti dengan perubahan pola kerja. Menurutnya, pengalaman dan pola lama tetap menjadi pembelajaran, namun harus disertai dengan peningkatan konsolidasi dan cara kerja yang lebih adaptif.
“Orang-orang lama harus berkembang. Tinggalkan pola lama, tetapi pola baru harus sedikit dinaikkan lagi konsolidasinya,” ujarnya.

Sebagai bagian dari Muhammadiyah, ia juga mengingatkan pentingnya penguatan nilai dan ideologi organisasi dalam menjalankan seluruh aktivitas akademik dan kelembagaan.
“Karena kita adalah Muhammadiyah, jadi harus menjiwai Muhammadiyah,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris BPH UM Maluku, Ali Litiloly, M.Si., menegaskan bahwa RKT tidak boleh dipandang sekadar sebagai agenda tahunan untuk menyusun program dan anggaran.

Menurutnya, RKT harus menjadi ruang untuk mengevaluasi capaian, merefleksikan berbagai kekurangan, sekaligus memperkuat kapasitas setiap unit kerja di lingkungan universitas.
“Rapat kerja ini jangan menjadi agenda rutin tahunan dalam rangka menyusun program dan anggaran saja, tetapi menjadi satu bahan evaluasi bagi seluruh unit yang ada dalam universitas,” ungkap Ali.
Ia mengatakan, RKT merupakan momentum refleksi dan konsolidasi untuk memastikan program-program strategis universitas dapat dilaksanakan secara lebih efektif.
“Kalau tahun kemarin konsolidasinya kurang dalam penguatan kapasitas untuk melaksanakan program strategis di unit-unit yang ada dalam universitas, mungkin tahun ini sedikit dinaikkan,” harapnya.
Pihaknya juga mengingatkan UM Maluku untuk tidak cepat berpuas diri dengan berbagai capaian yang telah diraih. Persaingan antarperguruan tinggi di Maluku, menurutnya, menuntut universitas untuk terus melakukan evaluasi dan inovasi, khususnya dalam strategi penerimaan mahasiswa baru.
“Jangan kita puas dengan prestasi yang sudah kita raih selama ini. Kita harus terus bergerak maju, karena universitas di sini banyak dan juga sekolah tinggi. Itu yang menjadi saingan terbesar kita,” tegasnya.

Karena itu, BPH mendorong adanya konsolidasi dan evaluasi strategis terhadap penerimaan mahasiswa baru serta berbagai program pengembangan universitas.
Dalam RKT tersebut, BPH menekankan sedikitnya tiga agenda penting yang perlu menjadi perhatian, yakni penguatan tata kelola universitas, peningkatan mutu akademik, dan penguatan ideologi Muhammadiyah.
Rektor UM Maluku Prof. Faris Al-Fadhat, Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan tiga kata kunci yang menjadi arah pengembangan universitas, yakni scale up, level up, dan stand out.

Menurut Prof. Faris, ketiga strategi tersebut menjadi fondasi bagi UM Maluku untuk mempercepat pertumbuhan sekaligus meningkatkan kualitas dan daya saing universitas.
“Yang pertama scale up, yang kedua level up, dan yang ketiga stand out,” ujarnya.
Pada aspek scale up, Prof. Faris menjelaskan bahwa UM Maluku terus mengalami perkembangan signifikan, baik dari sisi kelembagaan, jumlah program studi, maupun minat masyarakat.
“Scale up ini kita sebut sebagai bagian dari upaya untuk mengembangkan kampus kita. Karena kampus yang baik itu harus berkembang,” jelasnya.
Jika sebelumnya UM Maluku hanya memiliki lima program studi yang tersebar di dua fakultas, kini universitas telah berkembang menjadi 10 program studi pada lima fakultas dan tengah memproses penerbitan izin Program Studi Informatika.
”Ke depan, UM Maluku menargetkan dapat menaungi sedikitnya 15 program studi”, ungkapnya.

Pertumbuhan tersebut juga tercermin dari meningkatnya minat calon mahasiswa. Pada 2024 tercatat 80 mahasiswa, Prof Faris mengatakan ada peningkatan menjadi 120 mahasiswa pada 2025 yang seluruhnya mendapatkan beasiswa. Sementara pada 2026, jumlah pendaftar melonjak menjadi 439 orang, dengan 142 orang telah menyelesaikan proses registrasi mandiri.
Menurut Prof. Faris, pertumbuhan mahasiswa tersebut harus diimbangi dengan kesiapan infrastruktur. Karena itu, UM Maluku terus mempercepat pengembangan fasilitas fisik, termasuk optimalisasi gedung milik PWM Maluku yang mulai direnovasi serta finalisasi legalitas lahan untuk pembangunan kampus utama.
Dengan dukungan skema pendanaan perbankan yang telah memperoleh persetujuan lebih dari 90 persen, peletakan batu pertama pembangunan gedung kampus baru ditargetkan paling lambat Oktober 2026.
Di sisi lain, Prof. Faris mengungkapkan bahwa perkembangan UM Maluku juga ditandai dengan semakin luasnya jejaring kerja sama. Salah satunya melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) yang baru dilaksanakan pada 2 September 2026.

“Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini tidak hanya menjadi wujud merawat semangat bertetangga, tetapi juga membuktikan posisi UM Maluku yang makin diperhitungkan di usia mudanya,” ungkap Prof. Faris.
Strategi kedua, level up, Rektor UM Maluku mengarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan budaya kerja, serta profesionalisme dosen dan tenaga kependidikan.
Prof. Faris menekankan bahwa pertumbuhan universitas tidak cukup hanya diukur dari bertambahnya program studi, mahasiswa, maupun fasilitas. Pertumbuhan tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas seluruh sumber daya manusia di dalamnya.
“Mengutip prinsip motivasi success is something you attract, seluruh civitas akademika didorong membangun etos kerja tinggi dan citra diri yang unggul demi mewujudkan cita-cita menjadi PTS Nomor 1 di Maluku,” tegasnya.
Sementara itu, strategi ketiga, stand out, diarahkan untuk membangun reputasi dan karakter UM Maluku sebagai kampus inklusif untuk semua.

Menurut Prof. Faris, identitas tersebut harus dibangun melalui kualitas, pelayanan, budaya akademik, serta pengabdian yang nyata kepada masyarakat.
Semangat tersebut juga harus berjalan seiring dengan nilai-nilai Muhammadiyah. Ia mengutip pesan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan: “Jangan mencari hidup di Muhammadiyah, tapi hidup-hidupilah Muhammadiyah.”
“Seluruh pengabdian ini diniatkan sebagai kontribusi nyata untuk kemajuan umat dan pendidikan di Bumi Raja-Raja,” pungkas Prof. Faris.
Melalui RKT Tahun Akademik 2026/2027, UM Maluku menegaskan komitmennya untuk tidak berhenti pada capaian yang telah diraih. Evaluasi, konsolidasi, peningkatan kualitas SDM, penguatan tata kelola, serta ekspansi kelembagaan menjadi bagian dari langkah strategis universitas untuk tumbuh lebih kuat dan semakin kompetitif di tingkat regional. (Humas)
