Teluk Ambon Tenggelam dalam Sampah Plastik: Penelitian Ungkap Krisis Laut yang Mengancam Ekosistem dan Ekonomi Maritim

Ambon – Di balik keindahan birunya perairan Teluk Ambon Bagian Dalam, tersimpan ancaman serius yang kian mengkhawatirkan. Sebuah penelitian komprehensif yang dilakukan pada Juli-Agustus 2025 mengungkap fakta mengejutkan: hampir setiap meter persegi perairan teluk ini dipenuhi rata-rata 2,58 item sampah laut, melampaui ambang batas standar internasional sebesar 72 persen.

Temuan ini bukan sekadar angka statistik. Di balik data tersebut, tergambar potret nyata degradasi lingkungan yang mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir, ekonomi perikanan, hingga kesehatan masyarakat di ibu kota Provinsi Maluku ini.

Plastik Menguasai Perairan

Tim peneliti dari Universitas Muhammadiyah Maluku yang dipimpin Laole berhasil mengidentifikasi 1.934 item sampah laut di enam lokasi penelitian yang mewakili berbagai karakteristik aktivitas manusia—mulai dari muara sungai, pelabuhan, pemukiman padat, ekosistem mangrove, kawasan perkantoran, hingga area wisata pantai.

Hasil yang diperoleh sungguh mengkhawatirkan: plastik mendominasi dengan proporsi mencapai 60,29 persen, diikuti kaca dan keramik 17,68 persen, serta busa plastik 9,72 persen. Yang lebih memprihatinkan, lebih dari 90 persen sampah yang ditemukan merupakan material yang tidak dapat terurai secara alami—artinya, sampah-sampah ini akan bertahan puluhan hingga ratusan tahun di lingkungan laut.

“Dominasi plastik di Teluk Ambon sejalan dengan tren global pencemaran laut. Namun, yang membedakan adalah intensitas kontaminasi di perairan semi-tertutup seperti ini jauh lebih parah karena sampah terperangkap dan terakumulasi,” jelas tim peneliti dalam laporannya.

Perbandingan regional menempatkan Teluk Ambon dalam kategori menengah-tinggi untuk tingkat pencemaran. Meski belum separah Teluk Jakarta yang mencatat 5,42 item per meter persegi, kondisi Teluk Ambon sudah jauh melampaui kawasan dengan tekanan antropogenik rendah seperti Kepulauan Seribu yang hanya 1,87 item per meter persegi.

Poka dan Negri Lama: Dua Titik Rawan Kritis

Analisis spasial mengungkap dua lokasi yang menjadi hotspot pencemaran: kawasan wisata Tanjung Martafon di Desa Poka dan pemukiman padat BTN Passo Indah di Negri Lama. Kedua lokasi ini menunjukkan tingkat kepadatan sampah yang sangat tinggi dan memerlukan penanganan segera.

Di Poka, kepadatan sampah mencapai 4,65 item per meter persegi—hampir lima kali lipat dibandingkan kawasan perkantoran Hunuth yang hanya 0,94 item per meter persegi. Yang mengkhawatirkan, 93,2 persen sampah di Poka merupakan kombinasi plastik dan busa plastik, material yang sangat ringan dan mudah tersebar luas melalui arus laut.

“Wilayah Poka merupakan destinasi rekreasi favorit masyarakat Ambon, terutama pada akhir pekan dan hari libur. Aktivitas wisata seperti piknik, berenang, dan olahraga air berkontribusi signifikan terhadap akumulasi sampah plastik sekali pakai—botol minuman, kemasan makanan, dan peralatan rekreasi,” ungkap hasil observasi lapangan.

Sementara di Negri Lama, plastik mendominasi hingga 67,1 persen dari total sampah. Area pemukiman padat ini mencerminkan persoalan klasik pengelolaan sampah domestik di negara berkembang: tingginya konsumsi produk sekali pakai tanpa diimbangi infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai.

Sistem drainase yang tidak memadai memperparah kondisi. Sampah domestik mudah terbawa ke lingkungan perairan melalui aliran permukaan, terutama saat musim hujan. Dengan kepadatan penduduk mencapai 6.823 jiwa per kilometer persegi di kawasan pesisir Teluk Ambon, tekanan antropogenik terhadap ekosistem laut kian intensif.

Setiap Lokasi, Karakteristik Sampah Berbeda

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah pola sampah yang berbeda-beda di setiap lokasi, sangat bergantung pada karakteristik aktivitas manusia di sekitarnya.

Di kawasan pantai Halong, misalnya, sampah didominasi kaca dan keramik hingga 41,3 persen Berbeda lagi dengan kawasan mangrove Waiheru yang menunjukkan kontaminasi plastik ekstrem hingga 92,1 persen. Kondisi ini mengindikasikan pencemaran dari sumber titik yang intensif—kemungkinan besar dari saluran drainase pemukiman yang bermuara langsung ke zona mangrove.

“Ekosistem mangrove seharusnya berfungsi sebagai penyaring alami untuk sampah laut. Namun, tekanan pencemaran yang berlebihan telah melampaui kapasitas alaminya,” tegas peneliti.

Ancaman Nyata bagi Ekosistem dan Ekonomi

Dampak pencemaran sampah laut bukan sekadar persoalan estetika lingkungan. Ancamannya jauh lebih serius dan multidimensi.

Pertama, fragmentasi sampah plastik menjadi mikroplastik di zona pasang surut. Kondisi tropis dengan radiasi UV tinggi, fluktuasi suhu ekstrem, dan abrasi gelombang mempercepat proses fragmentasi—bahkan 2-3 kali lebih cepat dibandingkan perairan beriklim sedang.

Mikroplastik ini kemudian masuk ke dalam rantai makanan laut. Penelitian sebelumnya menunjukkan, ikan dari perairan terkontaminasi mikroplastik dapat mengandung 1-8 partikel per individu, lengkap dengan polutan organik berbahaya yang terabsorpsi seperti PCBs dan PAHs.

Teluk Ambon Bagian Dalam merupakan habitat penting untuk ikan ekonomis seperti kembung, teri, dan baronang. Kontaminasi mikroplastik berpotensi tidak hanya mengancam kesehatan biota laut, tetapi juga keamanan pangan masyarakat yang mengonsumsinya.

Kedua, sampah laut menyebabkan kerusakan fisik habitat bentik dan ekosistem pesisir. Material yang menutupi dasar perairan mengganggu proses biogeokimia sedimen, mengubah struktur komunitas mikroba, dan menghambat remineralisasi bahan organik.

Ketiga, dampak ekonomi yang signifikan. Pencemaran sampah laut menurunkan daya tarik wisata pantai, mengganggu operasional perikanan tangkap, dan merusak peralatan nelayan. Secara nasional, kerugian ekonomi akibat sampah laut di sektor perikanan dan pariwisata Indonesia diestimasi mencapai 0,3-0,8 miliar dolar AS per tahun.

Solusi: Pengelolaan Berbasis Sumber

Penelitian ini tidak hanya mengungkap masalah, tetapi juga merekomendasikan strategi pengelolaan yang tepat sasaran berdasarkan karakteristik aktivitas antropogenik di setiap lokasi.

Untuk kawasan wisata seperti Poka yang menjadi prioritas tertinggi, diperlukan intervensi segera meliputi: instalasi perangkap sampah apung di jalur arus masuk, program pembersihan pantai berkala minimal dua minggu sekali, regulasi plastik sekali pakai, dan penyediaan infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai.

Di pemukiman urban seperti Negri Lama, fokus harus diarahkan pada peningkatan infrastruktur pengelolaan sampah domestik, penguatan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, edukasi pengurangan plastik sekali pakai, dan perbaikan sistem drainase untuk mencegah aliran sampah langsung ke perairan.

Untuk kawasan pelabuhan, perlu regulasi ketat pengelolaan limbah kapal dan fasilitas penerimaan sampah kapal yang memadai. Sementara di zona mangrove, pengendalian sumber sampah dari hulu sungai menjadi kunci, dibarengi program restorasi ekosistem.

“Strategi pengelolaan harus bersifat spesifik-sumber, tidak bisa seragam untuk semua lokasi. Pemahaman tentang hubungan antara aktivitas antropogenik dengan distribusi dan komposisi sampah laut menjadi kunci merancang strategi yang efektif,” tegas peneliti.

Panggilan untuk Bertindak

Penelitian ini menyediakan data baseline komprehensif tentang sampah laut di Teluk Ambon Bagian Dalam dengan metodologi terstandar. Data ini sangat krusial sebagai basis ilmiah untuk formulasi kebijakan pengelolaan pesisir dan pengaturan aktivitas antropogenik di zona pesisir.

Namun, data saja tidak cukup. Diperlukan komitmen kuat dari berbagai pihak—pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas, hingga masyarakat—untuk mengimplementasikan strategi pengelolaan yang telah direkomendasikan.

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dengan garis pantai mencapai 99.093 kilometer menempati posisi kedua sebagai penyumbang sampah laut terbesar dunia setelah China, dengan estimasi kontribusi 0,48-1,29 juta ton sampah plastik per tahun. Kondisi di Teluk Ambon adalah cerminan dari persoalan yang lebih luas yang dihadapi perairan Indonesia.

“Jika tidak ada intervensi signifikan, produksi plastik global diproyeksikan mencapai 1.124 juta ton pada tahun 2040. Kita tidak bisa hanya menunggu. Tindakan nyata harus dimulai sekarang, dimulai dari lingkungan kita sendiri,” tutup peneliti.

Teluk Ambon yang tenggelam dalam sampah plastik adalah peringatan keras bagi kita semua. Laut yang sehat adalah fondasi kehidupan pesisir yang berkelanjutan. Saatnya kita bertindak sebelum terlambat.


Penelitian ini didukung oleh Direktorat Riset, Teknologi dan Pengabdian Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui hibah Penelitian Dosen Pemula tahun 2025.

  • rektorat@ummaluku.ac.id
  • +62 823-1335-9910 - Admisi UM Maluku
  • +62 813-1319-6697 - Humas Um Maluku
  • Gedung Dakwah Muhammadiyah Jl. Permi no. 37 Silale-Kota Ambon. 97111 Alamat Kampus I. Universitas Muhammadiyah Maluku, Jl. Dr. Sitanala, Waringin, Kel Wainitu, Kec. Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku 97115