

Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan publik dan memperkuat profesionalisme di lingkungan akademis, Universitas Muhammadiyah Maluku (UM Maluku) menyelenggarakan Pelatihan Service Excellence bagi seluruh Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendik). Kegiatan ini berlangsung di Aula UM Maluku, Lantai 6, pada Senin (25/05/2026).
Pelatihan strategis ini menghadirkan pakar di bidangnya, yaitu Trainer Service Excellence Bank Syariah Indonesia (BSI), Sri Wahyuningsih. Dalam sesi tersebut, ia membagikan berbagai strategi, taktik, dan wawasan mendalam mengenai penerapan pelayanan prima yang berorientasi pada kepuasan civitas akademika serta masyarakat luas.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor II UM Maluku, Dr. Imam Suprabowo, S.Sos.I., M.Pd.I. Dalam sambutannya, Dr. Imam memberikan apresiasi yang tinggi serta motivasi kepada para dosen dan tendik untuk mengikuti kegiatan ini dengan sungguh-sungguh hingga selesai. Ia menekankan bahwa pelayanan prima merupakan cerminan dari kualitas tata kelola universitas.
“Sebagai institusi pendidikan tinggi yang terus bergerak maju, UM Maluku berkomitmen untuk menghadirkan ekosistem kampus yang nyaman dan profesional. Pelayanan administrasi dan akademik yang cepat, responsif, dan berbasis nilai Islam adalah kunci. Melalui pelatihan ini, saya berharap seluruh dosen dan tendik dapat menyerap ilmu dari pemateri, lalu mengaktualisasikannya dalam tugas sehari-hari. Kita ingin setiap mahasiswa dan masyarakat yang datang ke kampus ini merasakan kehangatan dan profesionalisme yang nyata,” ujar Dr. Imam Suprabowo dalam arahannya.

Sementara itu, Kepala Lembaga Sumberdaya Manusia dan Hukum UM Maluku, Hendra Musaid, S.H.I., M.H., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak, baik dosen maupun tenaga kependidikan, yang telah mendukung penuh terselenggaranya kegiatan ini.
Menurut Hendra, pelatihan service excellence ini merupakan bagian dari komitmen nyata universitas dalam mendongkrak kualitas pelayanan akademik maupun administratif. Di era persaingan pendidikan tinggi yang semakin ketat, pelayanan yang profesional, ramah, cepat, tepat, dan berintegritas telah menjadi salah satu kunci utama dalam membangun kepercayaan serta reputasi institusi.
”Pelatihan Service Excellence ini adalah upaya konkrit untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada mahasiswa sebagai pengguna layanan utama di lingkungan kampus. Pelayanan yang baik tidak hanya memberikan kepuasan sesaat, tetapi juga menciptakan kesan positif, membangun kepercayaan jangka panjang, serta memberikan dampak yang berkelanjutan bagi perkembangan Universitas Muhammadiyah Maluku,” jelas Hendra.

Ia juga menegaskan peran penting SDM sebagai wajah dari organisasi. ”Sebagai dosen dan tenaga kependidikan, tugas kita bukan hanya menjalankan fungsi administratif dan akademik semata. Lebih dari itu, kita adalah representasi dari nilai-nilai luhur Muhammadiyah yang mengedepankan aspek pelayanan, etika, serta sikap humanis dalam setiap interaksi,” tegasnya.
Melalui pelatihan ini, Lembaga SDM dan Hukum UM Maluku berharap seluruh peserta dapat menginternalisasi pentingnya budaya pelayanan prima, mengasah kemampuan komunikasi, mempererat kerja sama tim, serta mampu memberikan solusi yang responsif bagi civitas akademika.
”Kami juga berharap kegiatan ini tidak berhenti pada tataran teori saja, tetapi benar-benar diimplementasikan secara nyata dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan kampus, sehingga tercipta budaya kerja yang profesional, disiplin, dan berorientasi pada kepuasan layanan,” harap Hendra.

Dalam paparan materi, Trainer Service Excellence BSI, Sri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa setiap garda depan pelayanan dituntut untuk memiliki sikap profesional, kedisiplinan waktu yang tinggi, kematangan emosi, serta pemahaman mendalam bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah.
Ia menggarisbawahi pentingnya etika komunikasi, seperti penggunaan bahasa yang sopan, menjaga kontak mata dan bahasa tubuh (body language) yang positif, tidak memotong pembicaraan, serta menutup proses pelayanan dengan ucapan terima kasih yang tulus. Penerapan budaya 7S—yaitu Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun, Semangat, dan Sigap—menurutnya harus menjadi fondasi utama.
Lebih lanjut, Sri menegaskan bahwa petugas pelayanan harus responsif terhadap kebutuhan mahasiswa dan cakap dalam menangani keluhan dengan empati, mendengarkan secara aktif, mencatat esensi masalah secara jelas, serta menghadirkan solusi yang cepat dan tepat.

”Tanamkan dalam diri bahwa tujuan kerja kita adalah bentuk ibadah kepada Allah SWT. Kita harus disiplin, terbuka (welcome) kepada siapa saja yang datang, tidak membeda-bedakan mahasiswa maupun siapa saja yang datang, mampu memberikan solusi, serta terampil mengendalikan diri saat tekanan kerja muncul,” ujar Sri Wahyuningsih di hadapan para peserta.
Melalui sinergi pelatihan ini, penerapan pelayanan prima diharapkan dapat menciptakan rasa nyaman yang konsisten, mendongkrak tingkat kepercayaan mahasiswa terhadap institusi, sekaligus memancarkan kualitas dan citra profesional Universitas Muhammadiyah Maluku ke ranah publik yang lebih luas. (Humas)